Kondisi Es Kutub Utara Mengkhawatirkan
19 Oktober 2009

Jakarta - Rebecca Woodgate tidak mempunyai waktu untuk ngobrol sementara tim oceanografi bergerak cepat di dek kapal penelitian mereka di Bering strait, wilayah penting bagi studi dampak pemanasan global.

Woodgate, dari Polar Science Center di University of Washington, menghadapi banyak pekerjaan dalam waktu singkat, untuk secara tepat menunjukkan lokasi bawah laut delapan alat pengumpul data di wilayah AS dan Rusia di selat tersebut.

Ia secara elektronik mengangkat alat itu ke permukaan dan menenggelamkan alat baru yang akan ditambatkan di sana selama satu tahun.

Itu adalah pekerjaan yang harus dilakukan secara cepat guna membaca data yang bermanfaat buat dia dan rekannya di dalam ekspedisi gabungan Rusia-AS untuk menaksir dampak perubahan iklim di perairan utara-jauh antara bekas musuh era Perang Dingin tersebut.

Ketika seseorang yang melihatkan kegiatan itu dan berada terlalu dekat selama penggelaran di perairan yang berombak kecil di lepas pantai Siberia, ilmuwan kelahiran Inggris tersebut secara tergesa-gesa menyerahkan satu paket sepotong gigi besi dan berkata, "Ini, kerjakan sesuatu dengan ini."

Alat penambat tersebut, yang mirip benang bola pantai, menyediakan pengukuran tepat mengenai arus, temperatur dan kandungan garam. Sebagian bahkan mencatat suara ikan paus bagi misi itu, yang disebut RUSALCA, atau Russian-American Long-term Census of the Arctic.

RUSALCA, yang dalam bahasa daerah di Rusia adalah nama dewi laut, telah mengungkap bukti yang meningkat mengenai pemanasan dan dampaknya di tempat samudera Pasifik dan Arcktik bertemu.

RUSALCA melakukan itu sementara menyeimbangkan sasaran dua negara dengan kepentingan yang berkembang dalam menjamin wilayah Kutub Utara mereka, yang kaya akan sumber daya, saat perairan terbuka membuat wilayah itu lebih mudah dimasuki.

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh U.S. National Administration dan Rusian Academy of Sciences. "Daerah itu adalah bagian penting dari teka-teki perubahan iklim," demikian laporan kantor resmi Inggris, Reuters.

"Saya melihat Bering Strait berpotensi menjadi pemicu bagi pencairan es," kata Woodgate, sewaktu menaikkan (uploading) data dari alat penambat di kapal penelitian rusia, Professor Khromov.

Perlunya keterangan lengkap, dari pantai Alaska sampai ujung timur Rusia, membuat kerja sama bilateral jadi pentin. Tanpa itu, "Anda berada dalam masalah," katanya.

Woodgate termasuk di antara sebanyak 50 ilmuwan dari Amerika Serikat, Rusia dan negara lain di kapal Professor Khromov selama enam pekan pada Agustus dan September, untuk mempelajari kehidupan laut dan air di Laut Bering dan Chukchi dan di perairan Kutub Utara jauh di sebelh utara Wrangel Island di lepas pantai timur-laut Rusia.

Sulit untuk membayangkan ketika angin dingin dan sangat kuat serta laut ganas mengombang-ambingkan kapal itu pada akhir musim panas, Air yang lebih segar dan lebih hangat yang mengalir melalui selat tersebut menuju Kutub Utara barangkali mendorong ujung es laut ke belakang.

Pada 2007, es itu mencapai rekor yang belum pernah terjadi sebelumnya sehingga mengejutkan para ilmuwan. Musim panas tahun ini, es trsebut berkurang jadi daerah paling kecil ketiganya dalam caratan sejarah, demikian laporan U.S. National Snow and Ice Data Center.

Para peneliti meramalkan, Laut Artik (kutub) akan bebas es pada musim panas dalam satu dekade mendatang. Setelah musim semi berlalu, para peneliti kembali mengukur ketebalan es sepanjang 450 kilometer dengan rute menyeberangi Laut Beaufort. Mereka menemukan sebagian besar es sangat tipis.

Pemimpin ekspedisi dan pakar es lautan dari University of Cambridge, Peter Wadhams, mengatakan, pada musim semi tahun lalu rata-rata ketebalan es hanya 1,8 meter, menandakan usia lapisan itu sekitar satu tahun. Sementara itu, es yang sudah bertahun-tahun sekitar 3 meter.

Tipisnya lapisan tersebut menjadi indikasi penting kondisi memprihatinkan es di Laut Artik. ”Secara sederhana, es tipis itu akan sekejap hilang pada musim es mulai meleleh,” ujarnya. Angin dan arus laut dapat pula memecah es yang tipis itu. Es yang terpecah dan mengapung bebas akan mudah terdorong ke wilayah perairan yang lebih hangat dan mencair. Catlin Arctic Survey dan kelompok konservasi internasional WWF mendukung penemuan tersebut.

Situasi es di Artik tersebut sangat dipengaruhi iklim dan kondisi alam. Kondisi es di Laut Artik kerap pula dikaitkan dengan perubahan iklim dan pemanasan global.  (antara,kompas)

Tautan Berita: